BANGLISANTUY.COM Pemerintah Taiwan telah mengajukan rencana tambahan anggaran pertahanan sebesar US$40 miliar yang akan diterapkan selama beberapa tahun ke depan, dengan penekanan pada pengembangan sistem pertahanan udara terpadu yang dikenal sebagai T-Dome.
Sistem ini dirancang untuk memberikan perlindungan menyeluruh dari kemungkinan serangan jet tempur, rudal balistik, rudal jelajah, hingga drone yang dimiliki oleh China, yang semakin sering mendekati wilayah udara Taiwan.
Presiden Taiwan, Lai Ching-te, menegaskan komitmennya dalam mempercepat proses pembangunan T-Dome sebagai inisiatif untuk menciptakan “jaring pengaman” bagi pulau demokrasi tersebut.
Pada tanggal 10 Oktober lalu, Lai pertama kali memperkenalkan sistem T-Dome kepada publik, yang segera dibandingkan dengan Iron Dome milik Israel oleh masyarakat.
Namun, para analis menganggap bahwa sistem pertahanan Taiwan akan menghadapi ancaman yang jauh lebih besar. “Ini ditujukan untuk pesawat PLA, rudal balistik dan jelajah, serta, yang semakin meningkat, drone,” jelas analis keamanan, J. Michael Cole, yang merujuk pada Angkatan Bersenjata Pembebasan Rakyat China.
Saat ini, Taiwan telah dilengkapi dengan sistem pertahanan udara canggih, seperti Patriot yang berasal dari Amerika Serikat dan sistem Sky Bow yang diproduksi secara domestik.
Selain itu, Taiwan juga menunggu kedatangan NASAMS (National Advanced Surface-to-Air Missile System) dari Amerika Serikat yang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan pertahanan mereka.
T-Dome direncanakan akan mengintegrasikan semua perangkat ini dengan radar, sensor, serta berbagai teknologi pendukung lainnya, untuk menciptakan deteksi dini dan intersepsi yang jauh lebih efektif.
Menteri Pertahanan Taiwan, Wellington Koo, menekankan pentingnya integrasi sistem tersebut. “Jika Anda tidak mengintegrasikan perangkat deteksi ini, maka rudal pertahanan udara tersebut, baik untuk tujuan kontra-tembakan, serangan balik, maupun kontra-drone, tidak akan mampu mencapai intersepsi yang efisien atau koordinasi dan alokasi tembakan yang efektif,” ujarnya.
Menurut Su Tzu-yun, seorang pakar militer dari Institut Penelitian Pertahanan dan Keamanan Nasional Taipei, T-Dome akan terdiri dari dua komponen utama: sistem komando dan kendali yang dapat mengumpulkan data radar, mengidentifikasi ancaman, serta memutuskan pencegat yang harus diluncurkan; serta lapisan pencegat yang akan menembakkan senjata pada berbagai ketinggian untuk menghancurkan ancaman yang masuk.
Taiwan juga mengambil pelajaran penting dari perang di Ukraina, terutama tentang perlunya melindungi infrastruktur vital dan pasukan tempur dari serangan rudal dan drone.
Walaupun Taiwan telah meningkatkan kekuatan alat utamanya, para analis mengkhawatirkan bahwa jika terjadi konflik langsung dengan China, Taiwan akan menghadapi tekanan yang signifikan. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya bagi Taiwan untuk terus memperkuat dan memperbaharui sistem pertahanannya untuk menghadapi potensi ancaman di masa depan.




