Dorong Pemerintah Lakukan Inovasi Museum, Dede Yusuf: Jangan Hanya Bangunan Mati Tanpa Event

dede yusuf tentang museum

TajukPolitik – Wakil Ketua Komisi X DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, Dede Yusuf Macan Effendi mendorong pemerintah melakukan inovasi pengelolaan museum dan cagar budaya di Indonesia.

Dengan beragam inovasi tersebut, maka diharapkan mampu menjadi magnet kunjungan wisatawan, baik lokal maupun mancanegara.

“Jangan menganggap museum hanya sebagai bangunan mati saja tanpa ada event tertentu. Harus ada inovasi dari para pengelolanya agar menjadi daya tarik turis mengunjungi museum, baik domestik maupun mancanegara,” ungkap Dede Yusuf di Bandung, Jawa Barat, Minggu (24/12).

Dari sebuah museum dan cagar budaya, kata Dede Yusuf, masyarakat akan mendapat pengalaman sebuah memori seorang tokoh atau budaya pada masa lampau.

“Contohnya museum di Cirebon dengan koleksi keramik dan gerabah pada masa Kesultanan Cirebon. Hal tersebut memberikan pengetahuan bahwa pada masa itu terjadi pertukaran budaya dan politik antara kerajaan Tiongkok dengan Kesultanan Cirebon,” tuturnya.

Dari bukti tersebut, lanjut Dede Yusuf, menunjukkan Indonesia sejak dulu sudah melakukan hubungan bilateral dan multilateral sehingga menjadi bangsa yang besar.

Dengan demikian, ia menegaskan, museum dan cagar budaya ini tidak hanya mengoleksi barang-barang kuno atau artefak belaka. Akan tetapi terdapat sebuah cerita yang dapat menjadi warisan pengetahuan bagi generasi penerus.

Dalam kesempatan itu, politisi Partai Demokrat ini menegaskan, anak muda sekarang tidak hanya melihat lukisan yang terpajang di sebuah dinding. Namun dengan kemajuan teknologi sekarang, kombinasi audio visual akan menjadi daya tarik sendiri.

Ia pun terus mendorong agar pengelolaan museum ini juga menerapkan konsep virtual tour.

Mantan Wakil Gubernur Jawa Barat 2008-2013 ini juga menambahkan, untuk menarik perhatian masyarakat, maka perlu juga promosi melalui media sosial. Jika promosi ini dapat berjalan, ia pun optimistis akan mampu menarik perhatian pengunjung, bukan sekedar menikmati experience saja.

“Saya berkomitmen mendorong Kementerian Pendidikan untuk menaikkan anggaran dana abadi kebudayaannya. Namun, jika program yang biasa-biasa saja dan tidak merangsang keingintahuan anak muda, maka saya anggap gagal. Bagaimanapun caranya, anak muda kita harus mengetahui peradaban bangsa Indonesia melalui keberadaan museum dan cagar budaya ini,” ucapnya.

Terkait perlunya inovasi pengelolaan, Wakil Kepala Badan Layanan Umum Museum dan Cagar Budaya, Pustanto sependapat dengan Dede Yusuf.

Bahkan, ia mengaku sudah menyiapkan proses transformasi kelembagaan dan penggabungan pengelolaan 18 museum dan 34 cagar budaya di bawah BLU-MCB.

Pustanto mengklaim, hal tersebut menjadi salah satu upaya agar pelayanan publik lebih memadai kedepannya.

“Kita harapkan, transformasi kelembagaan ini dapat menarik dukungan serta partisipasi aktif baik dari publik di berbagai golongan dan kalangan. Kunci keberhasilan museum dan cagar budaya adalah kebersamaan dan inovasi,” ucapnya.

Iklan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini
Captcha verification failed!
Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!