Rabu, Desember 10, 2025

MenLH Hanif Faisol: Pentingnya Tanggung Jawab Terhadap Kerusakan Ekosistem Batang Toru

BANGLISANTUY.COM Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq menyatakan bahwa pemerintah akan melakukan peninjauan langsung untuk mengevaluasi tingkat kerusakan di kawasan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Langkah ini diambil setelah berbagai bencana banjir bandang dan longsor melanda wilayah tersebut pada akhir November 2025.

Kawasan Batang Toru kembali menjadi perhatian karena semakin rentannya ekosistem yang ada di sana, seiring meningkatnya kejadian cuaca ekstrem di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh.

“Insyaallah hari Kamis (4/12) besok saya akan langsung turun ke lapangan untuk melihat Batang Toru itu seperti apa kerusakannya. Harus ada yang bertanggung jawab atas kerusakan ini,” tegas Hanif saat acara Peluncuran Dana Inovasi Teknologi dan Kajian Solusi Berketahanan Iklim yang berlangsung di Gedung Bappenas, Jakarta, pada Selasa (2/12).

Hanif juga menjelaskan bahwa Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Toru, yang memiliki luas 340 ribu hektare, mempunyai karakteristik lanskap berbentuk huruf V. Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan merupakan titik-titik sensitif dalam struktur lanskap tersebut.

Ia menambahkan, tanpa keberadaan hutan yang cukup di lereng-lereng DAS, risiko terjadinya bencana sangat sulit untuk dihindari.

“Kita dapat bayangkan apa yang terjadi kalau di lereng-lerengnya tidak ada lagi hutan yang menyangga kehidupan di Batang Toru tersebut. Dan inilah yang terjadi,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Hanif menjelaskan bahwa bagian hulu DAS Batang Toru kini banyak beralih fungsi menjadi area budidaya tanaman basah dan kering, sedangkan seharusnya kawasan tersebut didominasi oleh hutan.

Berdasarkan data kementerian, kapasitas tutupan hutan di bagian hilir kini hanya tersisa 38 persen, yang tidak cukup untuk menampung curah hujan ekstrem yang mencapai 300 mm pada 24–25 Oktober 2025.

Situasi ini semakin diperparah oleh aktivitas pembukaan lahan untuk pembangunan pembangkit listrik tenaga air, hutan tanaman industri, dan perkebunan sawit. Kegiatan-kegiatan ini menyebabkan turunnya volume kayu yang signifikan, yang selanjutnya memicu kerusakan tambahan pada aliran sungai dan lingkungan sekitarnya.

Hanif juga menjelaskan bahwa curah hujan ekstrem—dari 300 hingga 400 mm per hari—telah memicu terjadinya longsor dan banjir bandang di sejumlah daerah lain. Dampak dari perubahan iklim ini tentunya memerlukan perhatian lebih dari berbagai pihak untuk menciptakan solusi yang berkelanjutan dalam mengatasi masalah ini.

Poster

Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru