Selasa, 18 Juni, 2024

SBY Hadiri Perayaan Imlek Keluarga Besar MATAKIN

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

TajukPolitik – Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menghadiri perayaan Tahun Baru Imlek 2575 yang diselenggarakan Keluarga besar MATAKIN (Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia).

Dalam sambutannya SBY mengucapkan selamat atas perayaan malam tahun baru Imlek 2575.

“Semoga tahun baru Imlek 2575 ini membawa berkah, kedamaian, kebahagiaan bagi segenap umat Kongchucu dan sejatinya bagi kita semua,” ujar SBY yang untuk ke-19 kalinya menghadiri perayaan Imlek yang digelar MATAKIN.

SBY mengapresiasi bersatunya para tokoh agama dalam menjaga kedamaian bangsa Indonesia dengan bersama-sama melantunkan doa kepada yang Maha Kuasa.

“Oleh itu saya mengajak para pemimpin agama yang telah melantunkan doanya, mari kita menjaga kebersamaan, persatuan, dan semoga kebersamaan itu bisa menjadi bagian dari solusi itu dan itu sangat mulia,” pungkas SBY.

Keluarga besar MATAKIN (Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia) menggelar malam perayaan tahun baru Imlek 2575 di MAKIN Semangat Genta Rohani (Segar) Cilodong, Jalan Raya Bogor, Cilodong, Depok, Jumat (9/2) malam.

Acara yang diisi dengan malam kebaktian, kesenian, sembahyang tutup tahun dan doa syukur tersebut dihadiri oleh Ketua Umum MATAKIN Xs. Budi S Tanuwibowo, Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono, Wakil Ketua Umum MUI yang juga Ketua PBNU KH.

Marsudi Syuhud, Mayjen (Purn) Wisnu Bawa Tenaya, S.IP, (Ketua Umum PHDI/Parisada Hindu Dharma Indonesia), Pendeta Gomar Gultom (Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia), Romo Kardinal Ignatius Suharyo (Tokoh Katolik Seluruh Indonesia), Engkus Kuswana (Presidium Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia), Tri Eko Sriyanto (Ketua Paguyuban Spiritual Nusantara), Kapolres Depok Kombes Pol Arya Perdana, Danramil 03/Sukmajaya Kapten Infanteri Uswan Aswan Siregar, tokoh agama, umat Khonghucu dan masyarakat sekitar.

Dalam sambutannya Budi S Tanuwibowo mengatakan, tema Imlek tahun ini mengingatkan agar mengedepankan budaya malu. Hal ini salah satunya diterapkan Jepang, hingga akhir menjadi negara besar dan maju.

“Ini yang harus kita bangun, memiliki rasa malu yakni malu mengakui sesuatu yg bukan miliknya,” ucapnya.

Kembali Budi menyampaikan bahwa pada hakikatnya malam Imlek merupakan momen dimana berkumpulnya seluruh anggota keluarga dengan menggelar makan bersama.

Ajaran agung dalam salah satu kitab agama Khonghucu lanjut Budi, negara itu terdiri atas keluarga-keluarga, dimana kalau kondisi setiap keluarga berjalan aman dan damai maka akan tercipta negara yang aman dan damai.

“Keluarga adalah pokok kokoh berdirinya sebuah negara dan tiang utama sebuah negara. Kalau membangun negara yang penting adalah membangun manusia terutama pribadi dan keluarga. Sebuah negara mustahil berdiri kokoh, jika keluarganya berantakan,” imbuhnya.

Kembali Budi menambahkan, membangun pribadi dan keluarga akan menjadi fokus MATAKIN ke depannya.

“Disiplin, jika ini diterapkan dalam berbagai kegiatan mulai dari berlalulintas, memegang janji atau tepat anggaran, kalau ini bisa dilakukan tidak mustahil Indonesia berada di atas negara-negara lain,” ujarnya.

Bersama tokoh lintas agama, Ketua MATAKIN Budi membentuk Forum Indonesia Peduli Damai. Dengan kondisi bangsa di tahun politik, forum ini menempatkan diri di tengah untuk menciptakan suasana damai dan rukun sesama anak bangsa.

- Advertisement -spot_img
Berita Terbaru
- Advertisement -
Berita Lainnya
Rekomendasi Untuk Anda
- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini
Captcha verification failed!
Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!