Sarankan Kurikulum Merdeka Dievaluasi, Dede Yusuf: Tidak Boleh Bebankan Guru Jadi Stres

Dede Yusuf kritik Kurikulum Merdeka

TajukPolitik – Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Dede Yusuf Macan Effendi, mengungkapkan, Kurikulum Merdeka yang kini diterapkan di sekolah di seluruh Indonesia harus dievaluasi.

Politisi Partai Demokrat tersebut mengatakan, Kurikulum Merdeka ini memang memberikan kemudahan untuk para siswa.

“Tetapi di sisi lain, banyak guru yang kesulitan karena faktor administrasi yang cukup menumpuk,” ujar Dede Yusuf kepada awak media saat berada di Soreang, Minggu (17/12)

Menurut Dede Yusuf, pihaknya akan melakukan evaluasi, melihat bahwa konsep merdeka belajar ini.

“Memang harus memberikan rasa nyaman, senang, happy bagi anak-anak, tapi tidak boleh membebankan guru jadi stres,” kata anggota Fraksi Partai Demokrat ini.

Dede Yusuf mengatakan, kalau ada yang harus diubah, itu beban kepada gurunya.

“Saat ini, beban kepada guru membuat laporan-laporan adminitrasi terlalu berat, dan itu yang akan kita evaluasi,” tuturnya.

Terkait beban biaya tambahan kepada orang tua siswa, kata Dedw Yusuf, sebetulnya kalau dibilang tambah biaya mestinya tidak ada karena memang tidak ada biaya tambahan.

Menurutnya, yang sifatnya kegiatan lapangan, itu mengajari anak untuk memahami tumbuh-tumbuhan di luar, memahami tetangganya.

“Itu tidak perlu harus kayak biaya studi tour atau perjalanan bus ke daerah wisata. Nah, itu malah lebih mahal,” ucapnya.

Dede Yusuf menjelaskan, yang harus dilakukan adalah justru pemahaman terhadap lingkungan sekolahnya, kebersihan sekolah, kesehatan, di kantin, kemudian membantu masyarakat di sekitar, dan itu menurutnya tidak perlu biaya.

“Jadi, ini konotasi yang salah kalau sekolah memberikan biaya tambahan kepada orang tua,” ujarnya.

Sebelumnya anggota Komisi X DPR RI dari Demokrat, Anita Jacoba kritisi kurikulum Merdeka yang belum dirasakan penuh di daerah 3T. Berdasarkan pengamatannya, banyak daerah yang masih sangat minim terutama urusan sarana prasarana sehingga sulit merasakan kurikulum merdeka.

“Tidak ada internet, tidak ada laptop. Mereka tidak mengerti apa itu merdeka belajar. Apalagi katanya mereka hanya mendengar saja baru ditahap pertama, sekarang sudah tahap dua puluh lima. Mereka kan butuh pintar, mereka juga ingin berkembang,” imbuhnya.

Iklan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini
Captcha verification failed!
Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!